Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Dua – Part 17

Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Dua – Part 17by adminon.Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Dua – Part 17Enam – Part 17 Bab IV Awal dari Akhir Bagian Dua Hahaha, film nya konyol banget. Parah lah eta yang punya ide. Iya sih, tapi kan lumayan menghibur. Eh, kamu gak apa-apa gek ke sekolah Yan? Hehe, mending bareng ama kamu Ka, daripada sekolah. Hehe. Gombal. Hah, hehe, mau kemana kita? Waduh, lupa bawa peta. […]

tumblr_nvblq3bwFz1uuqmqvo3_1280 tumblr_nvblq3bwFz1uuqmqvo4_1280 tumblr_nvblq3bwFz1uuqmqvo5_1280Enam – Part 17

Bab IV
Awal dari Akhir Bagian Dua

Hahaha, film nya konyol banget. Parah lah eta yang punya ide.
Iya sih, tapi kan lumayan menghibur. Eh, kamu gak apa-apa gek ke sekolah Yan?
Hehe, mending bareng ama kamu Ka, daripada sekolah. Hehe.
Gombal. Hah, hehe, mau kemana kita?
Waduh, lupa bawa peta. Hehe, kemana asiknya?
Hmmmm, ke kostan Rian aja yu?
Ah, jangan, tar terjadi hal-hal yang sangat Rian inginkan.
Iii waw, apa kah itu?
Hahaha, ya itu. Beneran nih mau ke kostan Rian? Yakin?
Engga sih, hahaha, yakin, soalnya masih kangen ama Rian.
Rian tersenyum mendengar hal itu, kemudian dipegangnya tangan Atika dan ditariknya ke arah pintu keluar, Ya udah, Rian juga masih kangen berat.
Kemudian mereka berdua berjalan ke arah parkiran sambil berpegangan tangan.

==========
Yun, di tunggu di belakang kelas kamu.
SMS dari Bima untuk Yuni. Dan tak lama berselang, dari arah belokan kelas keluar tubuh ramping Yuni dengan agak ragu melangkahkan kakinya.
Ada apa Bim?
Hm, gak papa, cuman kangen aja.
Halah, kamu tu, sekarang Yuni tau ko, kamu cuman kangen ama badan Yuni aja kan?
Ah, kata siapa? Enggak kok.
Udahlah Bim, bahkan mang Encang aja tau kalo kamu itu cowok yang suka maenin cewek. Terutama maenin badannya.
Kamu jangan ngomong gitu Yun, apa yang saya rasa buat kamu itu beneran rasa sayang. Soal Ima itu lain, lain di perbandingannya aja.
Ya iya lah, Ima kan baik, pake kerudung, jadi gak mungkin macem-macem ama cowoknya, gak kaya Yuni, udah bukan perawan lagi.
Yun, perawan ato enggak, kamu itu spesial. Keadaan rumah kamu yang gak bisa dibilang normal, keadaan kamu sekarang, semua hal yang kamu jalani, dan kamu masih tegar berdiri, belajar untuk masa depan kamu, kamu itu perempuan hebat Yun. Gak pernah sekalipun saya memandang kamu rendah. Bahkan kamu lebih hebat dari saya, yang pelarian ini.

Bima hendak meneruskan perkataannya, namun ia urungkat niatnya. Yuni menundukan kepalanya, memandang ujung sepatunya. Kemudian Bima menarik kedua tangan Yuni. Menciumnya. Saya sayang Yuni, itu gak bohong, keadaan yang membuat kita kaya gini.
Mata Bima memandang wajah Yuni yang masih melihat ke bawah, tangannya kemudian memegang dagu Yuni, mengangkatnya, kemudian bibirnya mencium bibir Yuni. Lembut.

Senyum Yun. Dan Yuni pun tersenyum.
Cantik. Sangat cantik.
Cantikan mana ama Ima?
Jiah, dasar. Sebenernya cantikan kamu sih. Hehe.
Halah, gombal. Dasar. Jadi mau apa manggil Yuni ke sini?
Hm, pengen ngajak maen aja. Mau gak?
Kapan? Maen apa? Maen maen ato maen maen? Tanya Yuni, pertanyaan maen yang ke dua dilengkapi dengan dua tanda kutip yang dibuat dengan jarinya di udara.
Hahahahaha, ya kalo boleh dua-duanya sih.
Hmmm, liat aja entar ya. Emang mau kapan?
Belum tau, tar deh saya hubungi Yuni lagi. Ya?
Ya sudah, Yuni tunggu kabarnya.

==========

Masuk Ka. Hehe, sori, berantakan, maklum, kamar cowok.
Nyantey aja kali Yan, gak jauh beda ko ama kamar Atika.
Wah, kamar kamu berantakan juga dong.
Hehehe.
Duduk, mau minum apa? Ada air putih, air putih dan air putih.
Jiah, sama aja itu mah. Kalo makanannya ada apa?
Hm, gak ada juga nih, yang ada cuman cinta buat Atika.
Gombal. Hm, DVD, punya film apa aja?
Film apa aja ada, hahaha, nonton ini yu?
Love Actually. Atika senang filmnya. Romantis banget. Ayo nonton.
Rian menyalakan TV dan DVD, dan mereka mulai menonton film. Duduk berdua berdampingan. Kepala Atika disandarkan di bahu kiri Rian. Tangan mereka berpegangan.

==========
Gusti mengetuk sekali lagi pintu kamar kost Lidya. Dia tahu, malam tadi Lidya mendapatkan shift malam. Tapi ini sudah jam 3. Kemudian dia mengeluarkan HP nya, menelepon Lidya. Dua kali dia coba, baru pada percobaan ke tiga terdengar suara parau.
Haloooo.
Halo-halo, bangun sayang, udah jam tiga nih. Bukain pintu napa?
Huaaaahhhhhh, ya, bentar.
Pintu kamar terbuka, muncul si empunya, dengan rambut acak-acakan dan hanya menggunakan tank top tanpa BH, karena jelas, puting Lidya tercetak dengan jelas. Belum lagi celana pendek yang dia gunakan, mempertontonkan pahanya yang indah.

Lid, dandanan kamu bikin nafsu aja.
Huaaah, napa? Pengen?
Pengen sih, tapi males, bau naga.
Dasar, naga saya bernafas segar sayang. Sambil berusaha mencium mulut Gusti. Gusti sendiri tertawa dan berusaha menghindar, dan mereka berakhir bergulat di atas kasur sambil tertawa-tawa.
Udah sana, ke aer dulu. Itu pintu sekalian tutup.
Iya tuan. Lidya kemudian bangkit dan menutup pintu. Ada lagi tuan?
Mandi gih.
Baik tuan. Kemudian Lidya membuka begitu saja tank top nya, otomatis dia langsung top less. Tak lama kemudian lepaslah sudah celana pendeknya, kemudian celana dalamnya Lidya buka dan dilemparkan ke muka Gusti.
Mau ikut mandi?
Haha, boleh. Gusti cepat-cepat bangkit.
Idih, giliran enaknya aja mau.
Terkekeh, Gusti tetap membuka seragamnya, melepas semua kain sehingga mereka berdua bertelanjang bulat.
Tertawa sambil saling cubit, mereka berlari ke kamar mandi. Gusti memeluk Lidya dari belakang, masih tertawa, Lidya berusaha melepaskan diri, namun sia-sia. Gusti mengambil gayung, mengisinya dengan air dan langsung mengguyur Lidya, tertawa.
Haaaaaahhh, brrrrrrr. Dingiiinnnnnn.

Jelas aja, kamu tidur mulu si. Terus Gusti mengguyur Lidya, memandikannya, kemudian dia mengambil sabun, dan mulai menyabudi Lidya. Lidya memandangi Gusti yang menyabuninya, mulai dari leher, telinga, badan, tidak lupa bagian dada, sambil meremas buah dada Lidya, dan sedikit memainkan putingnya. Terus turun ke bawah, perutnya, belahan pantat Lidya dan vagina Lidya, pahanya sampai ujung kaki. Kemudian kembali Gusti mengguyur Ldiya sampai semua sabun itu hilang.
Kali ini giliran Gusti yang diguyur oleh Lidya, dan disabuni. Namun Lidya berhenti pas di penis Gusti, alih-alih menyabuni dengan benar, dia malah mengocok penis Gusti.
Ah, Lid. Ngapain sih, bukannya nyabuni yang benerrrrrrrrr, akh. Enak banget.
Hahaha, biasa coili pake sabun sendiri ya?
Betul betul betul. Hehe. Terus Lid.

Hampir tujuh menit Lidya mengocok penis Gusti, sampe akhirnya sperma Gusti keluar, membasahi tangan Lidya yang mungil dan mulus itu.
Hehehe, keluar. Sekarang giliran kamu.
Tar, Mau ngapain hey?
Gusti mendudukan Lidya di pinggir bak mandi. Mengangkangkan kakinya, Mau gini. Langsung tanpa pemanasan yang berarti Gusti membenamkan penisnya ke vagina Lidya.
Aaakhhh, seret Gust, belum basah nih. Sakit.
Hahaha, anggap aja masih perawan. Pas pertama kali.
Gelo. Akh, iya, ah, yaaa Gus, terus.
Gusti menggenjot dengan kecepatan tinggi, tapi tetap hati-hati agar mereka tidak jatuh, Hah, Gus, mau, akh, terussss, bentar lagi. Genjot terus sayang. Aaaaaaaaaaa….
Lidya mengejang, hampir saja jatuh masuk ke bak kalo tidak ditangkap Gusti. Mereka tertawa. Parah, kalo jatuh gimana coba?
Ya paling itu air bak penuh ama cairan kamu Lid. Hehe, nungging dong.
Huh, ga romantis banget ni orang. Nungging dong apaan itu? Tapi Lidya tetap saja nungging.
Di pantat ya?
Iya, udah sini, mana kontol gede muuuuuuuuuuu aaaaaaaaaaaaaaaa? Gusti jahattttt, maen tusuk langsung aja. Basahin dulu kek, ahhh, sakiittttttt. Iiiiiiiiiiiiiiihhhh, sebel Mmmmmpppppp. Lidya tidak bisa berkomentar lagi, mulutnya kini dilumat habis oleh Gusti, sambil pantatnya digenjot dengan kecepatan yang sama tingginya.

==========
Mmmmmmmpppp. Akh. Slurppp. HHmmmpmp.
Sepasang bibir itu saling melumat. Bergerak. Menari dan bergulat. Sepasang lidah itu saling melilit, memasuki rongga mulut pasangannya. Menggelitik lidah bawah dan langit-langit mulut. Kemudian berhenti, saling berpisah.
Nafas mereka seperti orang yang baru berjalan jauh. Wajah mereka merah, terbakar hawa nafsu.
Kamu cantik Ka.
Dan kembali bibir mereka bertemu.

Rian menaikan tangannya, menggapai buah dada Atika yang bulat dan ranum, meremasnya sekali, namun Atika tersentak, melepaskan bibirnya dan memegang tangan Rian.
Mmm, enggak, gak boleh. Jangan dulu. Atika belum pernah dan belum siap. Ini aja ciuman pertama buat Atika.
Ah, oh, maafin Rian.
Gak apa-apa. Hehehe, tapi ciuman itu enak ko.
Mau lagi?
Atika mengangguk, Rian kembali mencium bibir Atika yang merah merekah itu, tidak lama, ciumannya kini menjalar, ke pipi kiri Atika, terus sampai bibirnya menemukan telinga Atika. Diciuminya telinga itu dari luar jilbabnya.
Aaah, Rian, geli ah, udah.
Tahan dikit Ka, entar juga enggak.
Tapi, aaahhhhhh, Riaannnnn.

Rian kini menurunkan serangannya, leher Atika. Masih dari luar jilbab putihnya. Tangan kanan Rian meraih pinggang Atika, menariknya lebih erat ke tubuhnya. Ciumannya kembali ke mulut Atika, semakin ganas. Semakin bernafsu mereka berciuman. Rian kembali menurunkan ciumannya, kembali ke leher Atika, kali ini, tangan kanannya menyibakan sedikit jilbab yang dikenakan Atika, hingga mulutnya bisa langsung mencium leher Atika yang mulus itu.
Aaah, ssssssshhhhhhhhhhh, Riaaannnnnnn. Atika hanya bisa mendesah. Menikmati permainan Rian yang terkadang menjilat lehernya, menggigit dan mencium. Atika menarik kepala Rian, dan mereka kembali saling lumat, saling menekankan kepala mereka, nafas mereka semakin terdengar, menderu keras.
Tiga puluh menit mereka bercumbu, sampai akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Yan, anterin ke kamar mandi.
Kenapa?
Hmmm, anterinnnn.
Kenapa?
Anterin Riannnn.
Kenapa dulu mah.
Malu ah.
Jiah, masa malu ke pacar sendiri. Kenapa sayang?
Hmm, basah, kaya pipis gitu. Jawab Atika, wajahnya merah karena malu. Rian hanya tersenyum, bangkit dan menarik Atika berdiri, kemudian mereka keluar dari kamar menuju kamar mandi.

==========

“Gila? Si Udin punya ide gitu?”
“Iya Lid, gia gak?”
“Banget, parah, ngumpanin pacar sendiri, tapi kemaren emang seru sih, rasanya gimanaaa gitu. Ya kan?”
“Serius lo Lid?”
“Serius. Eh, kenapa kamu nolak Gus?”
“Gila aja, jelaslah gua nolak.”
“Kalo saya mau giamana? Kalo saya mau di DP gimana? Kalo saya pengen liat kamu maen ama perempuan lain dihadapan saya giamana?”
“Parah kamu Lid.”

——bersambung——

Author: 

Related Posts