Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 26

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 26by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 26Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 26 Chapter 19 : LOVE?!? BEGIN?!? ———————– Siapa yang mengusut kasus itu? tanya seorang lelaki sambil merokok. AIPTU Herman, jawab wanita yang berbaring disebelahnya. Tanpa busana. Hmmmm, orang itu, dia lawan yang berbahaya, Lanjut silelaki. Huh, biasa saja, track recordnya biasa saja, baru beberapa […]

tumblr_nn4eszmJrw1ut5og6o5_1280 tumblr_nnm619e1nk1uoaovmo1_500 tumblr_nnm619e1nk1uoaovmo2_500Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 26

Chapter 19 : LOVE?!? BEGIN?!?
———————–

Siapa yang mengusut kasus itu? tanya seorang lelaki sambil merokok.
AIPTU Herman, jawab wanita yang berbaring disebelahnya. Tanpa busana.
Hmmmm, orang itu, dia lawan yang berbahaya, Lanjut silelaki.
Huh, biasa saja, track recordnya biasa saja, baru beberapa tahun ini namanya mentereng, sahut siwanita sambil mengelap ceceran sperma di perutnya.
Bukan dia saja, tapi rekannya, sahut silelaki.
Siapa? Lelaki kurus yang doyan perempuan itu? Huh, bisa apa dia, setiap minggu selalu nyari PSK! sahut si wanita yang sekarang menjilat kemaluan silelaki.
Kau lihat luka di perutku ini? tanya silelaki.
Dari dulu aku ingin bertanya? Siapa yang bisa menyentuhmu? Siapa yang bisa melukaimu seperti itu?
Siapa? Lelaki kurus yang doyan perempuan yang setiap minggu selalu nyari PSK itu!

———————–
Lidya POV.

Aku terbangun dengan perasaan bingung. Dimana ini?

Perlahan kepingan ingatan muncul, kulihat kedepan.

Si-mata-keranjang ada di ranjang putih, dengan selimut sampai didada. Masker oksigen masih menempel dimukanya, sedangkan selang infus membentang dari tanganya ke penyangga. Mukanya terlihat tenang.

Tanpa beban.

Kuteringat sebuah kata-kata yang dikatakan Nick padaku,

Kebanyakan dari kita baru merasa memiliki, saat kita telah kehilangan

Keberadaan si-mata-keranjang yang biasanya tidak kuperhatikan. Sekarang baru terasa perbedaannya. Harus kuakui, perbedaan yang besar terjadi ketika dia tidak ada. Manajemen proyek ini kewalahan tanpa keberadaannya. Dan aku

Ruangan ICU terasa begitu sunyi, begitu dingin. Ingin kupergi dan menuju keruang rapat G-Team yang biasanya dipenuhi canda tawa. Dimanakah sekarang Mas Frans, Mas Edy, Lisa, si-sekretaris-seksi?

Ughhhhtttt, kurentangkan tangan dan meregangkan badan sejenak.

Berdua dengan si-mata-keranjang disini, kalau dalam keadaan normal pasti kutolak mentah-mentah. Belum pernah aku berada berduaan didalam kamar seperti ini dengan seorang lelaki, kecuali dengan Nick.

Kembali mukaku memerah mengingat kejadian itu.

Tok.tok.tok.

Aku menuju kepintu dan membukanya dan terlihat anggota polisi yang dari kemarin menjaga diluar.

Belum sadar mbak? tanyanya sambil melihat si-mata-keranjang.

Belum mas, dokter bilang mungkin lagi 30 menit atau satu jam mas, sahutku sambil tersenyum.

Iya mbak, terimakasih, katanya ramah dan beranjak dari depan pintu.

Uffffttttt, seruku ketika merasakan badanku sedikit lengket. Dan baru teringat aku belum mandi dari kemarin malam! Kuambil handuk yang dibawakan Lisa kemarin dan menuju pintu.

Mas, saya mandi dulu, nitip Mas Andri bentar ya, kataku kepada petugas polisi yang menjaga didepan pintu.

Silahkan mbak, sahutnya ramah.

Dengan perasaan yang sedikit tenang aku menuju kamar mandi yang terletak cukup jauh dari ruang ICU. Sesampainya dikamar mandi,kubuka satu persatu pakaian yang melekat dibadanku hingga tubuhku polos tak mengenakan sehelai benang pun.

Ugggghtttt, dingin! seruku ketika air yang dingin mengguyur badanku.

Putingku ikut mengeras merasakan dinginnya air bak mandi.

Aku mandi dengan cepat. Selesai mandi aku mengambil pakain ganti yang dibawakan Lisa.

OMG.

Tidak ada pakaian dalam!

Sejenak aku bingung, namun kuputuskan untuk memakai celana jeans dipadu dengan kaos yang dibawakan oleh Lisa. Dengan pasrah aku melihat putingku yang tercetak dari balik kaos yang kupakai. Namun rasanya tertutupi oleh jaket yang dibawakan oleh Lisa.

Namun…

Aku sedikit risih dibagian bawah karena bisa kurasakan permukaan vaginaku langsung tergesek oleh permukaan celana yang sedikit kasar.

Dengan wajah dan perasaan yang lebih segar, aku melangkah menuju ruang ICU. Kuanggukan kepalaku kepada polisi yang menjaga didepan kamar si-mata-keranjang.

Seperti tadi, si-mata-keranjang masih belum sadar.

Wajahnya yang biasanya terlihat serius atau mesum, sekarang terlihat damai.

Sungguh berbeda.

Bibir itu terlihat sedikit kering.

Bibir yang hampir menciumku waktu ini.

Teringat hal itu tak terasa pipiku kembali memanas.

Tanpa terasa aku menyentuh bibirku, kejadian kemarin menyisakan kenangan tersendiri.

Kenangan yang mungkin sulit aku lupakan.

Dengan perlahan kupegang tangannya yang masih terisi selang infus. Tangannya terasa dingin. Selimut yang menutupi tubuhnya kurapikan sehingga kuharap dia lebih nyaman.

Wajahnya begitu damai.

Begitu tenang.

Tanpa sadar aku membelai pipinya yang tidak tertutup masker dan perlahan matanya terbuka.

Andri POV.

Kurasakan sentuhan pelan di pipiku. Aku mencoba membuka mataku namun terasa begitu berat.

Kepalaku juga terasa berat, aku mencoba menggerakkan kakiku dan terasa sedikit kaku.

Rasa nyeri samar terasa dibagian perut kiriku.

Nyeri dan sakit.

Dengan perlahan kubuka mataku dan terlihat wajah seseorang sedang tersenyum memandangku.

Wajah yang mulai sering kulihat.

Si-celana-dalam-putih!

Dimana ini dan kenapa aku ada disini?

Kupejamkan mata dan mencoba mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya.

Terbayang Bidadari Massage, Nia, stoking hitam, double penetration Nia, Tomi, mobil yang meledak, memadamkan api, menyeret Tomi, benda berkilau dan rasa sakit yang menyengat, kemudian gelap.

Kupaksa mataku membuka lagi dan kulihat si-celana-dalam-putih memandangku dengan pandangan yang aneh.

Kucoba menggerakkan tangan kananku, terasa berat.

Bibirku terasa kering.

Air, haus,tak sadar aku meminta air.

Eh, mas sudah bangun? tanyanya. Bisa kudengar nada lega dalam suaranya.

Lid, ha..us, air, pintaku.

Eh, Lidya panggilin dokter dulu ya mas, mas habis dioperasi, takutnya tidak boleh minum dulu mas, katanya sambil melangkah keluar ruangan.
Bisa kudengar suaranya didepan pintu berbincang dengan seseorang.

Seorang lelaki.

Kulihat seorang dengan seragam polisi terlihat berdiri dipintu.

Polisi? Disini? Kenapa?

Dengan bingung aku memejamkan mataku yang kembali terasa berat.

Tidak berapa lama si-celana-dalam-putih datang dengan seorang dokter dan suster.

Si dokter memeriksaku beberapa lama, terlihat dia puas dengan apa yang dilihatnya dan memberikan pengarahan singkat kepada si-celana-dalam-putih. Dia melepaskan masker oksigen dan memberikan pengarahan kepada suster.

Jangan dikasi minum dulu ya mbak, nanti kalau sudah buang angin baru boleh minum, kalau haus sekali, bisa kasi minum cuma 2 tetes dan itu satu jam dari sekarang, panggil suster aja nanti ya mbak, kata dokter dengan ramah.

WTF!

Cuma dua tetes!

Oh, ia, kalau kondisinya sudah stabil, mungkin nanti siang sudah boleh pindah ke kamar biasa, nanti urus dibagian administrasi ya mbak, lanjut dokter sambil berjalan keluar kamar.

Bisa kudengar dokter berbicara dengan polisi yang ada dibagian depan.

Mas, belum boleh minum dulu ya, terang si-celana-dalam-putih.

Uffghhht.

Haus Lid, kataku lemah.

Tahan bentar mas, sampai bisa, senyum terlihat diwajahnya. Sampai bisa buang angin mas, katanya. Dan senyum itu semakin lebar.

Lid, kenapa aku bisa ada disini? tanyaku.

Aku juga belum tau mas, tau-tau aku sudah dihubungi pihak rumah sakit kemarin malam, terangnya.

Aduh! seruku ketika kucoba menggerakkan badan dan merasakan sakit yang menyengat di bagian kiri perutku.

Mas! Jangan bergerak dulu, nanti lukanya terbuka! seru si-celana-dalam-putih dengan nada galak.

Luka?

Aku kenapa Lid? tanyaku dengan bingung.

Mas baru dioperasi tau! jawabnya dengan sedikit jengkel.

Operasi? Operasi kenapa Lid?

Kata dokter, ada peluru ditubuh mas, jadi kemungkinan mas kena tembak, sahutnya.

Kejadian kemarin kembali berputar dikepalaku. Rupanya rasa sakit itu karena tembakan!

Kuruba perutku dan bisa kurasakan ada perban disana.

Tok..tok..tok..

Si-celana-dalam-putih beranjak kedepan pintu dan membukanya.

Seorang suster masuk dan tersenyum kearah kami.

Cek tekanan darahnya dulu ya mas, katanya sambil tersenyum.

Cantik juga.

Sudah lumayan stabil mas, tapi belum boleh minum atau makan dulu ya, katanya sambil merapikan alat-alatnya.

Mas beruntung deh, punya pacar kayak mbak ini, mbak ini lo yang donor darah untuk operasi mas, dan dari kemarin nemenin mas disini, katanya sambil mengerling kearah si-celana-dalam-putih.

Iya mbak, calon istri yang baik, kataku dengan pelan.

Mari mas, mbak, katanya sambil beranjak keluar.

Aku melirik si-celana-dalam-putih, wajahnya terlihat bersemu merah.

Maaf Lid, kamu dikira jadi pacarku,kataku sambil tersenyum.

Gak apa-apa kok mas, sahutnya. Namun wajah itu tetap saja bersemu merah.

Ouwh, berarti, jadi pacar beneran ya? tanyaku dengan mimik muka kubuat serius.

Dengan tenang si-celana-dalam-putih meraba dahiku.

Hmmmm, demam, pantes saja omongannya ngaco, katanya sambil merapikan jaketnya.

Aseemmmmmmm!

Aku mencoba menggerakkan tanganku untuk membenahi bantal yang sedikit salah posisi.

Eh, jangan bergerak dulu mas, kata si-celana-dalam-putih sambil menghampiriku. Harum sabun samar tercium dari tubuhnya ketika tangannya membenahi bantal yang ada dikepalaku.

Dan

Dan aku bisa melihat payudaranya yang tak tertutup apa-apa dari sela-sela kaos yang dipakainya!

Kupandangi wajahnya yang terlihat serius. Wajah yang kemarin begitu menggodaku untuk menciumnya.

Bibir yang begitu menantang.

Aduhhh! teriakku ketika tak sengaja rambut si-celana-dalam-putih yang dibiarkan tergerai mengenai mataku.

Aduh, maaf mas! katanya ketika mengetahui rambutnya mengenai mataku.

Cukup pedih.

Sini aku lihat dulu mas, kata si-celana-dalam-putih dengan sedikit panik.

Wajahnya begitu dekat dengan wajahku.

Bibir itu.

Eh mas, dia terdiam ketika aku melihatnya dengan tatapan yang intens.

Bibir itu semakin dekat.

Semakin dekat….

Kriiekkk

Suara pintu terbuka dan terdengar suara.

Andri, kena..pa?

As always…

Selalu saja ada pengganggu!

Dan penggangu itu kali ini berwujud seorang wanita umur 30 tahun dengan wajah yang manis dan mata yang galak! Satu-satunya wanita yang tidak bisa dan tidak ingin kujadikan pacar didunia ini!

Galang POV

LangLangGalang, kudengar samar suara sesorang memanggilku.

Ugghhtttt, dengan malas aku membuka mata.

Sosok sahabat baikku beberapa tahun belakangan ini terlihat dipinggir ranjang.

Ayo berangkat Lang, kau yang ngajak berangkat pagi-pagi, malah masih molor karang! katanya sedikit jengkel.

Andai kau tau apa yang terjadi tadi malam.
Kau tidak akan ngomong gini Her.

Pikirku dalam hati.

Masih ngantuk Her, sahutku dengan malas.

Ngantuk? Sudah jam delapan? Memang kau ngapain kemarin? tanyanya sambil mengerutkan kening.

Bacain cerita buat sepupumu itu! kataku singkat.

Dan beberapa hal lainnya bersama ibu dan anak itu Her.

Emang sampai pagi? Bangun dulu, sudah dibuatin kopi sama Marni, lanjut Herman sambil keluar.

Dengan malas aku melangkah keluar, di meja makan sudah ada segelas kopi dan beberapa potong pisang goreng. Herman duduk dikursi, sambil meminum segelas kopi dan membaca koran.

Gimana perkembangannya Her? tanyaku sambil menyesap kopi buatan istrinya.

Hmmmm, sedikit rasa iri muncul ke sahabatku ini. Punya istri yang setia melayaninya, anak-anak yang manis.

Keluarga kecil yang bahagia pikirku.

Sekarang kita tinggal menunggu kabar dari rumah sakit, kalau CEO G-Team sekarang sadar, kita meluncur kesana, jawab Herman sambil tetap membaca koran.

Bagaimana kondisinya Her?

Kata anak buahku yang menjaga disana, saat kritisnya sudah lewat, tinggal menuju siuman saja, kau tahu siapa yang menjaganya di ICU dari kemarin? Tanya Herman.

Siapa?

CEO Delta Company, sahutnya dengan nada yang sedikit aneh.

Apa tidak ada keluarganya yang bisa datang? tanyaku sedikit heran.

Ibu dan saudara perempuannya masih di Bali, hari ini mereka datang kesini Lang.

Aku sebenarnya kasihan kepada CEO Delta itu Lang, celetuk Herman.

Kenapa?

Apa kau tidak ingat apa yang dikatakan oleh saksi, siapa itu namanya, Nia, di TKP?

Apa yang dikatakan Nia? Ingatanku melayang ke malam kejadian, saat kami di TKP.

22.00. Bidadari Massage. Malam kejadian

Bagaimana menurutmu Lang, Tanya Herman ketika kami selesai melihat kondisi TKP.

Hmmm, sepertinya sebuah alat peledak Her, sahutku,

Maksudmu?

Lihat radius kebakaran dan kondisi mobilnya Her, kalau cuma kebakaran biasa, rasanya pecahan-pecahan yang ditemukan tim forensik tidak akan sejauh ini, kataku.

Kita tanya mereka saja Lang, sahut Herman sambil menunjuk dua orang forensik yang sedang asyik meneliti bekas-bekas mobil.

Ayo, ajakku.

Halo kawan-kawan, apa yang sudah kalian temukan? tanya Herman kepada dua orang anggota tim forensik, Bram dan Aiko.

Kenapa selalu aku yang harus bertemu kalian? Bram balik bertanya. Bram, 30 tahun. Seorang anggota forensik yang cukup senior. Dengan badan yang tidak terlalu tinggi namun punya dedikasi dan loyalitas terhadap pekerjaan yang cukup tinggi. Walaupun terkadang dia mengomel ketika harus bekerjasama dengan kami.

Mungkin sudah takdir Bram, sahutku sambil tersenyum.

Takdir yang baik atau tidak kalau begitu mas? sahut Aiko. Aiko Sawamura. Gadis keturunan Jepang-Indonesia. Satu dari sedikit wanita yang ada dibagian forensik. Dengan wajah oriental dan tubuh yang putih mulus, tentu saja Aiko menjadi primadona di satuannya. Namun bukan karena kecantikan atau kemolekan tubuhnya saja, namun juga karena kemampuan analisisnya yang mengagumkan.

Boleh baik atau buruk terserah, yang penting aku ingin tahu penyebab kenapa mobil ini bisa terbakar seperti ini? sahut Herman, seperti biasa tak sabaran.

Hmmmm, aku rasa ini karena bom plastik, sahut Bram pelan. Hilang sudah ekspresi jengkelnya tadi, berganti dengan ekspresi serius.

Dan dilihat dari radius ledakannya, mungkin C-4 atau sejenisnya, sahut Aiko.

Dengan remote atau trigger? tanyaku.

Satu pertanyaan dulu, korban harusnya bukan yang sekarang kan? Tapi yang tertembak? tanya Bram.

Kemungkinannya seperti itu, jawabHerman.

Kalau begitu kemungkinan besar trigger, mungkin sensor diletakkan di pintu, jadi saat korban membuka pintu, buuuuuummmmm! jelas Bram.

Ada hal yang lain?tanyaku.

Untuk korban kedua, yang terkena tembakan, kemungkinan dia ditembak dari belakang, aku sempat berbicara dengan dokter yang menangani korban, dia bilang luka itu memanjang dari punggung kearah perut. Peluru tidak keluar dari tubuh korban, jadi bisa kuasumsikan dia ditembak dari jarak 10 meter atau lebih, dari belakang, jelas Bram panjang lebar.

Kira-kira senjata jenis apa yang yang digunakan? tanyaku.

Pelurunya kaliber .45, mungkin jenis handgun atau pistol, kemungkinan berisi silencer juga,sahut Aiko.

Silencer? tanya Herman dengan kening berkerut.

Kalau jaraknya 10 sampai 20 meter dibelakang korban, berarti saat itu pelaku berada diantara orang-orang yang berdiri disana, kataku sambil menunjuk kearah belakang, dekat dengan tempat penerima tamu. Jadi dia perlu silencer biar suara tembakannya tidak terlalu terdengar, jelasku.

Jadi, dia menaruh bom dimobil, masuk kedalam seolah tak terjadi apa-apa, kemudian menembak korban, lalu keluar dari sini?kata Herman dengan nada marah.

Mungkin seperti itu, atau dia menunggu korban disini dan menaruh bom, bersembunyi di dekat sini dan menembak korban ketika tahu salah sasaran, seru Aiko.

Aduh, kasus ini semakin rumit, kata Herman sambil menggaruk kepalanya.

Oke, itu saja dulu, kami bawa dulu barang-barang itu ke lab, siapa tahu ada petunjuk yang kami bisa dapatkan terang Bram sambil beranjak pergi.

Jadi? tanya Herman dengan mimik wajah penasaran.

Kukira kita perlu bertanya kepada orang-orang yang berada disini saat kejadian, sahutku sambil menuju kearah Bidadari Massage.

Tunggu Lang, jawab Herman sambil berjalan disampingku.

Kami menuju keresepsionis. Disana terlihat dua orang wanita sedang duduk bersisian dengan tatapan mata kosong.

Selamat malam, kami dari kepolisian, bisa bicara dengan penanggung jawab tempat ini? tanya Herman kemereka.

Kuamati satu persatu keduan orang ini. Yang lebih muda, terlihat berusia antara 17 sampai 23 tahun, dengan rambut panjang sepinggang yang dibiarkan tergerai, membingkai wajah yang yang sedikit tirus. Make up tipis terlihat diwajahnya. Sedangkan yang lebih tua, mungkin usia 30 tahun dengan wajah yang berkerut. Tatapan matanya menyiratkan beban hidup yang harus dijalaninya.

Mata itu, mata yang menyimpan kepedihan dan sekarang terlihat ekspresi kesedihan disana.

Sedih?
Sedih karena apa?

Saya sendiri pak, sahut wanita yang lebih tua.

Saya Herman dan ini rekan saya Galang, kata Herman sambil menunjuk kearahku.

Aku mengangguk kearah mereka.

Ada yang bisa saya bantu pak, saya Nia? Tanya yang lebih tua yang bernama Nia.

Bisa kita berbicara ditempat yang lebih tertutup mbak? saran Herman.

Eh, mari ikut saya pak, katanya sambil melangkah ke salah satu ruangan yang berada ditempat ini. Sebuah ruangan yang cukup besar untuk sebuah tempat pijat. Ada shower, jacuzzi, sebuah ranjang dan lemari kecil disudut. Sebuah kursi kecil ada di ujung ranjang.

Maaf pak, semua ruangan disini seperti ini, kata Nia sambil duduk diranjang.

Aku bersandar didinding sementara Herman meraih kursi kecil diujung ranjang dan duduk dekat dengan Nia.

Mbak Nia, menurut keterangan anak buah saya, mbak yang membawa saudara Andri menuju rumah sakit, tadi sekitar pukul sembilan malam? tanya Herman tanpa basa-basi.

Iya pak, saya yang mengantarnya, jawab Nia singkat.

Dengan siapa? lanjut Herman bertanya.

Dengan beberapa orang pelangan saya mas.

Oke, lalu apa hubungan anda dengan saudara Andri? tanya Herman lebih lanjut.

Mas Andri pelanggan disini, itu saja pak, sahutnya dengan datar.

Anda mengenal saudara Andri secara pribadi?

Tidak terlalu pak, cuma karena Mas Andri sering kesini, bisa dibilang hubungan kami lebih akrab daripada yang lain, jawabnya.

Yang lain? Yang lain itu siapa? Tanya Herman.

Anak buah saya, tukang pijat disini mas, sahutnya.

Sebelum kejadian, apakah saudara Andri juga pijat disini atau tidak, Tanya Herman sambil mencatat apa yang dikatan Nia dalam notesnya.

Mas Andri maunya dipijiat juga, namun karena semua pemijat penuh, saya yang ngambil Mas Andri, sahut Nia dengan sedikit tersipu.

Herman menoleh kepadaku, rupanya dia buntu.

Mbak Nia, dimana anda memijat Pak Andri? Dan berapa lama? tanyaku sambil memperhatikan perubahan ekspresi diwajah Nia.

Eh, didepan, dimeja resepsionis pak, kulihat wajah Nia semakin merona merah, tangannya secara tak sengajar meremas ujung kemeja yang dipakainya.

Diresepsionis, bagaimana cara anda memijatnya disana? tanyaku.

Eh, mas. Itu.., wajah Nia semakin merah. Mulutnya sedikit bergetar.

Malu?

Apakah dia dan Andri?

Mbak Nia, tolong jawab dengan jujur, apakah anda dan Pak Andri berhubungan seks didepan? tanyaku mengutarakan kecurigaanku.

Terlihat Herman dengan wajah bengong memandangku. Terlihat dia tidak percaya dengan apa yang kukatakan.

Ehhhh, pak…itu…. Kulihat dia seperti mengumpulkan kepercayaan dirinya sebelum menjawab. Iya pak, ka..mi berhubungan seks di…depan, sahutnya sambil memalingkan wajahnya.

Kulihat rona kepercayaan diri mulai muncul diwajahnya.

Sementara kulihat ekspresi Herman terlihat seperti orang yang mendengar kambing bisa mengeong!

Anda tahu pukul berapa Pak Andri datang kesini?

Sekitar pukul delapan pak, sahutnya dengan nada yang lebih tenang.

Berapa lama anda berhubungan badan dengan Pak Andri? tanyaku lagi.

Berdua sekitar duapuluh menit, setelah itu kira-kira lagi 20 menit, jawabnya dengan tenang.

Apa maksud anda setelah itu duapuluh menit? tanyaku sedikit bingung dengan kata-katanya.

Pas kami masih melakukannya, eh, ada remaja, yang terbakar dimobil itu keluar dan, eh, melihat kami pak, dan eh, dan kami main bertiga pak, katanya sambil tersenyum malu-malu.

Kulihat Herman semakin membelalakan matanya. Mukanya terlihat heran, kikuk, tak percaya dan bingung!

Terus bagaimana mbak? tanyaku.

Remaja yang terbakar itu, kalau tidak salah namanya Tomi, mau minta kondom awalnya kesaya, tapi karena sudah habis, makanya dia mau beli jawabnya Karena mobilnya berada didalam dan tidak bisa keluar, Mas Andri memberikan kunci mobilnya untuk dibawa, dan..dan., kulihat dia sedikit sulit mengatakan apa yang terjadi selanjutnya.

Dan bagaimana mbak? tanya Herman tak sabar.

Dan ketika saya dan Mas Andri masih mengobrol, terdengar ledakan dan terlihat ada api, Mas Andri langsung menyambar tabung pemadam kebakaran dan mencoba memadamkan api yang membakar mobilnya pak, setelah api sedikit mereda, Mas Andri menarik Tomi, Tomi yang ter..bakar hangus, Mas Andri berdiri dan kemudian terjatuh pak, saya mendekat dan melihat ada darah di baju Mas Andri, jelasnya dengan sedikit terbata.

Kemudian anda mengantarnya kerumah sakit? tanyaku memastikan.

Iya pak, saya mengantarkannya kerumah sakit, jawab Nia. Terlihat dia menarik nafas lega ketika mengakhiri pernyataannya.

Mbak, saya dengar dari anak buah saya, pas kejadian disini keadaanya ramai, ada event? Atau memang selalu ramai?

Kebetulan ada booking dari club mobil pak, jawabnya.

Berapa orang kira-kira yang datang?

Mungkin 20 orang pak, tapi mereka ada yang mengajak pasangan masing-masing, jadi bisa sekitar 30 orang pak atau lebih jelasnya.

Hmm, bisa kami dapatkan list dari staff yang bekerja disini mbak? tanyaku.

Bisa Pak, ini pak, katanya sambil mengambil sebuah album kecil dari laci meja.

Kulihat sejenak album ini, dan well, foto gadis-gadis yang mengundang selera terlihat. Lengkap dengan nama dan ukuran!

Terimakasih mbak, bisa album ini saya pinjam dulu? tanyaku.

Bisa pak, saya masih ada stoknya, sahutnya sambil tersenyum.

Kuberi tanda kearah Herman.

Kalau begitu kami permisi dulu mbak, selamat malam.

***

Maksudmu kalau korban ini suka main perempuan? tanyaku memastikan.

Iya, hufft, sudah punya pacar seperti itu, masih saja suka jajan sembarangan, katanya dengan gemas.

Apa kau yakin dia pacarnya? tanyaku.

Lalu apanya? Dia menunggui dari kemarin malam lo! jawab Herman tak mau kalah.

Kalau begitu, kita tanyakan saja nanti, sahutku sambil menghirup kopi dan mengambil sebuah pisang goreng.

Lidya POV.

Kriiekkk

Suara pintu terbuka dan terdengar suara.

Andri, kena..pa?

Kuangkat wajahku yang terlalu dekat dengan wajah si-mata-keranjang. Kalau dari belakang pasti akan terlihat aku sedang mencium si-mata-keranjang. Dan melihat ekspresi wanita yang baru datang, kuyakin pikiran mereka seperti itu.

Anisa, kapan-kapan belajarlah mengetuk pintu, kata seorang wanita yang terlihat berumur sekitar 50 tahun dibelakang wanita yang dipanggil Anisa.

Kami semua terdiam sejenak sebelum suara si-mata-keranjang memecah keheningan diantara kami.

Nenek lampir memang tidak tahu sopan santun, gerutunya.

Eh, apa kau bilang? kata mbak yang dipanggil Anisa mendekati kami.

Dengan perlahan aku menepi dan memberikan jalan kepadanya untuk lewat.

Mentang-mentang ditemani bidadari cantik, katanya sambil mencubit pipi si-mata-keranjang.

Aduh, ibu, bilangin nenek sihir ini,sahut si-mata-keranjang.

Ibu? Berarti ibu ini ibunya si-mata-keranjang.

Mbak-mbak, ini ICU, hanya satu orang yang boleh menjaga pasien, kudengar nada marah seorang suster didepan pintu. Suster-suster itu kemudian mendekati ranjang tempat si-mata-keranjang berada. Dengan perlahan aku menuju didepan pintu. Bingung apa yang harus kulakukan sekarang.

Maaf ya dik, Anisa memang seperti itu, sulit akur dengan Andri, tegur ibu si-mata-keranjang ketika kami sudah berada di luar ruangan.

Eh, gak apa-apa kok bu, sahutku dengan sedikit malu.

Oh iya, ibu Riyanti, ibunya Andri, wah, Andri memang tidak salah memilih pacar, katanya sambil mengulurkan tangan.

Saya Lidya bu, sejenak aku bingung apa harus memberitahu mereka kalau kami bukanlah sepasang kekasih!

Yang ada pasti mbak ini dibohongin Andri ma! kata seorang wanita dibelakangku. Mbak Anisa!

Maaf mbak, tadi lupa ngetuk pintu,hihihi, kata Mbak Anisa polos.Eh, saya Anisa, kakaknya Andri, katanya sambil mengulurkan tangannya.

Lidya mbak, jawabku sambil menyambut uluran tangannya. Yang tadi, gak apa-apa kok mbak, sahutku dengan tersipu.

Suster katanya mau mindahin Andri sekarang ma, eh tu anak ngotot mau kamar yang bisa makai handphone dan ada akses internetnya, celetuk Mbak Anisa.Dasar orang aneh,sambung Mbak Anisa.

Nisa, ajak dulu Lidya sarapan, Dik Lidya belum sarapan kan, tanya BuRiyanti.

Eh, belum bu, tapi gak usah bu, sahutku, tak enak kalau merepotkan Mbak Anisa.

Wah, ayo kita kekantin, ajak Mbak Anisa sambil menarik tanganku. Mau tak mau aku mengikuti Mbak Anisa kekantin.

Ditengah jalan Mbak Anisa berhenti.

Eh, kantinnya sebelah mana ya?

Gubrakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!

Sebelah sana rasanya mbak, kataku sambil menunjuk arah yang berlawanan.

Ayo Lid, mbak juga udah laper nih, belum sempat makan dari Bali tadi, terang Mbak Anisa sambil berjalan dengan cedikit cepat kearah yang kutunjukan tadi.

Uhhhhh, laparnya, seru Mbak Anisa ketika kami sudah sampai di kantin.

Kami memesan sarapan masing-masing, sambil menunggu makanan kami siap, Mbak Anisa mengajak aku ngobrol mengenai keadaan si-mata-keranjang.

Eh, Lidya, maaf soal yang tadi ya, kata Mbak Anisa, yang kembali, sukses membuat wajahku memanas.

Gak apa-apa kok mbak, jawabku.

Lidya tau kenapa Andri bisa sampai tertembak?

Soal itu saya juga belum tau mbak, polisi masih belum mau memberi penjelasan, sahutku sambil menunduk.

Huffttt, semoga semua baik-baik saja, kata Mbak Anisa, bisa kulihat senyum getir terlihat diwajahnya yang tadi ceria.

Kenapa mbak? tanyaku, sedikit bingung dengan perubahan suasana hati Mbak Anisa.

Eh, mbak Cuma berharap Andri baik-baik saja, mendengar Andri kecelakaan, ibu langsung gelisah dan mau sesegera mungkin kesini, terang Mbak Anisa.

Kami tidak ingin kejadian seperti ayahnya Andri dan saudara kembarnya terulang lagi, jelas Mbak Anisa. Terlihat rona kepedihan di mata Mbak Anisa.

Saudara kembar?

Yah, sekarang setidaknya Mas Andri sudah baik-baik saja mbak, kataku, mencoba menghibur Mbak Anisa.

Iya, yang kasihan ibu, semoga saja dia tidak kehilangan anak lagi, setelah kehilangan suami dan satu anak, sudah cukup rasanya penderitaan yang dialaminya, jawab Mbak Anisa.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan saudara kembar Andri dan ayahnya?

Mbak Anisa tersenyum.

Pasti Andri belum pernah cerita mengenai ayah dan saudaranya ya? tanya Mbak Anisa.

Eh,mbak, itu… kami, sahutku dengan tergagap.

Bagaimana aku menjelaskan kalau kami hanya partner bisnis biasa?

Tidak usah khawatir, dia memang sensitif mengenai masalah itu, jadi wajar saja dia belum memberitahu Lidya,kata Mbak Anisa.

Maaf mbak, sebenarnya, apa yang terjadi dengan saudara dan ayah Mas Andri? tanyaku penasaran.

Hmmm, begini Lid…,

Author: 

Related Posts