Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 5

Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 5by adminon.Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 5The Bastian’s Holiday – Part 5 Introduce JOGGING SUCKS Hooosshhhhhh Hooossshhhhhhh Sialan baru beberapa kali berlari mengelilingi komplek. Tapi nafasku sudah sudah sangat ngos ngosan. Dadaku seperti dihimpit oleh seekor gajah. Rupannya Staminaku sudah tak seprima dulu. Dulu mau lari berapa jauhpun tak ada masalah. Sekarang belum ada 3 kilometer perutku sudah terasa sangat sakit. […]

tumblr_nb335aObfY1ri2b44o2_540 tumblr_nb335aObfY1ri2b44o6_500 tumblr_nrt95zAlKg1uycoqxo1_1280The Bastian’s Holiday – Part 5

Introduce
JOGGING SUCKS

Hooosshhhhhh

Hooossshhhhhhh

Sialan baru beberapa kali berlari mengelilingi komplek. Tapi nafasku sudah sudah sangat ngos ngosan. Dadaku seperti dihimpit oleh seekor gajah. Rupannya Staminaku sudah tak seprima dulu. Dulu mau lari berapa jauhpun tak ada masalah. Sekarang belum ada 3 kilometer perutku sudah terasa sangat sakit. Melly dan kawan kawannya terus menyorakiku. Mereka sudah jauh meninggalkanku. Padahal tadi aku telah menantang mereka untuk adu lari, malah aku sendiri yang tertinggal jauh dibelakang.

Selain kebiasaan rokok, rupanya petualangan Seksku selama ini telah membuat staminaku sedikit berkurang. Ah Gawat aku harus sering sering berolahraga setelah ini.

“Kaaaaak, ayoooo larinya yang kenceng dongg, tadi katanya mau ngedahuluin kitaaa” Kata Melly dari kejauhan.

Ah berisik anak itu, gak tahu ini dada orang seperti mau pecah. Kuberhenti sejenak dan kuputuskan untuk berjalan kaki saja. Kini kami sudah keluar dari komplek. Kulihat Melly dan kawan kawanya berhenti diujung jalan. Tak lama aku berjalan, akupun sampai dimana mereka berdiri.

“Hmmmm, sekarang siapa yang dikalahii,” tanya Melly dengan nada meledek. Teman temanya juga sedikit nyinyir.

“Iya lah iyaa, kakak ngaku kalah deh, kakak kan sudah lama gak olahraga dek” jawabku memberi alasan.
“Aduuhh, kalian ada yang bawa air gaaak? Tenggorokan kakak kering banget nihhh.”

“Yah udah dehh, kita kecafe depan kompleks kalau gituu gimana kaaak”

“Udah terserah kamuu… Yang penting jangan jauh jauh”

“Ahhh Kakak payaaah nihh, hahahaha…..”

Akhirnya kami menuju sebuah mini cafe, sebuah tempat minum didepan perumahan tempat aku tinggal. Segera kupesan sebotol air mineral dingin dan segera kubasahi kerongkonganku yang sangat kering. Baru kali ini aku lari sampe selelah ini.

Melly dan kawan kawannyapun memesan minuman. Kami duduk di tempat itu. Sembari menunggu minuman yang mereka pesan kulihat Melly mulai mendekati salah seorang teman cownya. Melly mengambil tisu dan melap keringat didahi cow tersebut. Hal serupa terjadi pada dua Teman Melly yang lainnya. Melihat hal itu aku dapat menyimpulkan bahwa mereka saling berpacaran. Dan benar saja tak lama mereka saling menyapa dengan sapaan mesra khas abg jaman sekarang. Oh sial Ternyata sore ini aku harus menemani anak anak ini pacaran. Ini sama saja momong bocah (mengasuh anak).

Aku ditinggal begitu saja oleh mereka. Mereka berempat terus saja sibuk berbincang dengan pasangannya masing” dan aku hanya bisa duduk sambil menatap itu semua. Hal Hari pertamaku dijakarta lengkaplah sudah. Seharian dilanda bosan yang begitu luar biasa. Sekarang harus melihat dua pasang abg sedang asik berpacaran. Aku berani taruhan kalau alasan Jogging hanya alasan agar mereka bisa bertemu sore ini.

Mereka semakin asyik mengobrol entah apa aku tak sedikitpun ingin tahu. Tapi kulihat dari gerak geriknya, nampaknya mereka merencanakan sesuatu untun nanti malam. Ah masa bodo ah. coba tadi sempat bawa HP biar ada hiburan. Yah terpaksa lah aku menunggu mereka sampai selesai.

Sekitar setengah jam akihrnya mereka menyudahi obrolan menarik mereka. Tak lama ada sebuah mobil terparkir dijalan. Rupanya itu merupakan mobil jemputan teman perempuan Melly. Akhirnya mereka pun pulang.

“Bebb, kamu pulang sendiri gak apa apa?”

“Gak apa apa, kan ada Kak Bastian”

“Yah udah aku pulang yah Beb, gak enak tadi berangkatnya juga bareng Rini.”

“Iyaa iya, ati ati yaah, nati ngabarin eaa?”

“Iyaaa Bebeeb”

“Kak Bastian makasih yah nemenin kita.” Kata pacar Melly

“Ahhh iya iya” jawabku seadanya dari kursi.

Aduh geli juga yah model pacaran anak abg. Ngedengernya seperti kuping mau pecah. Lalu setelah pacar dan teman temannya pergi Melly menghampiriku lagi. Ia mengajaku pulang karena hari sudah semakin sore. Setelah membayar minuman yang ambil tadi kamippun berjalan menuju rumah kami. Dari sini menuju rumah kami yah cukup jauh sih sebenarnya kalau jalan kaki. Yah karena rumah kami memang berada paling belakang.

“Heeh de, yang tadi itu cowo kamu yah?” Tanyaku sambil berjalan disamping si Melly.

“Eehhhh, hmmm, belum jadi Pacar sih kak, masih Gebetan, habis dia gak nembak nembak sihh.”

“Lah kenapa gak kamu aja yang tembak”

“Ahhh masa cewek sih yang nembak, dimana mana cowo kali ka yang nembak Cewe.”

“Yah ampun de, sekarang mah gak ngaruh mau cew apa Cow yang nembak duluan”
“Eh tapi kamu diizinin gak sama mama kamu buat pacaran?”

“Sebenernya sih Melly gak dibolehin pacaran dulu, jadi Melly diem diem dehh..”

“Hmmm, bandel yaah,”

“Yah ela Kak habis temen temen Melly semuanya dah pacaran semua, masa Melly enggak sihh.”

“Mell mel, mama pasti punya alasan sendiri kenapa kamu gak dibolehin pacaran. Kan Melly masih kecil nanti kalau ganggu sekolah gimana”

“Ahh kak Bastian sama aja kaya mama nih Kolot”
“Dah ahh balapan lari aja yuk sampe rumah” Seru Melly sambil menarik tanganku agar ikut lari.

“Ehhhh, Kakak masihh lemes niih dee”

“Ahhh baru gitu doang dah lemes.. Ayo dong bete tau jalan.”

Akhirnya aku menuruti kemauan anak ini. Terpaksa aku mengikutinya untuk lari menuju rumah. Akhirnya sampai juga, walau aku harus terseok seok untuk mencapainya. Setelah sampai rumah segera aku menuju dapur kubuka kulkas segera kutenggak air dingin didalam botol. Ahh segarnya, kubawa botol itu menuju ruang keluarga dan kurebahkan tubuhku diatas sofa panjang.

Tubuh ini terasa mau copot. Memang olah raga penting tapi kalau sampe membuat ngos ngosan kaya gini maah gak dehh.lalu mama menghampiriku.

“Kamu kaya habis marathon saja sampe segitunya.”

“Ahh mama, aku kan lama gak lari maah, tadi baru beberapa putaran aja udah ngos ngosan. Ahhhhh”Jawabku sambil mengatur nafasku yang memburu.

“Papa belum pulang mah?”

“Belum tadi mama telpon HPnya malah gak aktif.”

“Oph iya Marissa juga belum pulang yah, dia nda bilaang sama kamu mau pulang jam berapa?”

“Enggak mah, Ah dia mah biasa mandiri mah, dulu kan dia tinggal di Jakarta juga”

“Ohh gitu, lalu sekarang dia tinggal dimana?”

“Kalau keluarganya sih tinggal di Kalimantan, tapi sekarang dia merantau di Yogja.”

“Yah mama bisa lihat sih kalau dia mandiri”
“Yah sudah kamu mandi sana keringeten begitu”

“Assalamualaikum”

“Wa alaikum sallam”

“Ehh baru juga di Omongin udah pulang, katanya pulang siang, ini sudah sore baru pulang, lohh bareng dik Marissa juga toh pulangnya” seru mama kepada papa yang baru saja pulang bersama Mba Icha.

” Iya mah, tadi ternyata gak sampe siang papa udah selesai. Terus papa nyamperin tempat dik Marissa motret habis papa tiba tiba tertarik lagi mah sama hoby lama papa” Kata papa sambil duduk disofa didekatku.

“Kamu habis Jogging Bas?” Lanjut papa.

“Iya nih Pa. Eh Mba Icha gimana tadi Huntingnya”

“Yah seperti biasa, Tuh tiba tiba aja si Om nyamperin lagi ketempat Hunting. Tahu gak Bas papa kamu ini ternyata jago loh. Malah tadi sempet ngasih trick buat kita.”

“Oh yah pah” tanyaku kaget.

“Hehehe, dik Marissa ini cuma membesar besarkan saja. Itu kan cuma trick lama om dulu, yah gak sehebat kamu sama teman teman kamu tadi lah”

“Mahh Kopi yaah maah,”

“Aku jugaa maah” sambungku.

“Iya iya sebentar mama buatkan, de Marissa mau minum apa”

“Saya Bantuin aja deh Tante…” Kata Mba icha sambil berdiri menghampiri mama menuju Dapur.

Tak lama Mama dan Mba Icha balik lagi membawa 4 cangkir kopi. Akhirnya kami berbincang bincang mengenai berbagai hal. Yah lagi lagi papa selalu mengeluarkan candaanya tentangku dengan mba Icha. Aku sudah kebal, biarkan saja lah papa mau ngomong apa. Toh sesungguhnya tidak terjadi. Kami semua. Kami ngobrol sampai jam 5 lalu aku masuk kekamar untuk mandi. Mba Icha juga masuk kedalam Kamar Tamu.

Lalu jam enam Papa memanggilku, ia mengajak aku dan mba Icha sholat berjamaah. Akhirnya kami turun dan menjalankan sholat maghrib. Jujur saja baru kali ini aku melihat Mba Icha sholat dan rupanya Mba Icha terlihat sangat cantik menggunakan Mukena. Ada sesuatu nih yang bakal aku ceritakan kepada tante Ocha nanti.

Setelah sholat mamah segera mengajak kami makan malam. Kami makan malam bersama. Senang rasanya Papa dan Mama begitu menerima Mba Icha dirumah ini. Aku yakin karena mereka merindukan kehariran anak perempuan. Karena seharusnya aku memiliki kakak perempuan, namun kakaku meninggal ketika ia masih bayi. Lalu butuh beberapa tahun mama dan papa berusaha lagi memiliki anak hingga aku lahir. Makanya mereka benar benar menjagaku selama ini.

“Ehh paa, Motor Vespa di garasi punya papa ya”

“Iyaa, Baru beli beberapa bulan yang lalu, cuma papa memang belum kasih tahu kamu. Kenapa?”

“Nanti Bastian pake yah, Bastian mau jalan jalan sama Mba Icha.”

“Yah pakai saja, tuh kuncinya dilemari biasa. Memang mau kemana kamu”

“Yah jalan jalan paaah, masa dirumah terus sihh,”

“Halaah, bilang saja mau nge Date kaan kaliaaan”

“Ahhh papa Mulai lagi dehhhhh” jawabku kesal. Kulihat Mba icha hanya senyum senyum saja. Mungkin seharian ini dia sudah kenyang dengan omongan papa.

Hahahahahaha.

Papa tertawa dengan begitu lepasnya..

Setelah makan Papa langsung menuju ruang kerjanya dan mamah memberisihkan piring bekas makan malam. Mba Icha sebelumnya sudah pamit untuk ke Kamar tamu duluan karena ia ingin merapihkan barang barangnya. Lalu kususul saja Mba icha. Aku naik kelantai dua menuju Kamar Tamu.. Kuketuk pintunya lalu kupanggil Mba Icha.

“Mbaaaa, ini akuu….” Kataku sambil mengetuk kamar Tamu.

“Masuk aja Bas gak gue kunci.” Kata Mba icha dari dalam.

Lalu kubuka saja pintu kamar tamu itu. Lalu kulihat didalam Mba Icha tengah asik merapihkan pakaian pakainnya dikoper. Aku duduk di pinggir kasur dan melihatnya tengah merapihkan baju.

“Ehh Bas, lo beneran mau ngajak gue keluar,”

“Iya lah, temenin aku jalan jalan yahh”

“Emang mau kemana dah, cape guee”

“Yah mba bentaran doang, aku Bete nihh seharian dirumah gak ngapa2in.”
“Yah kemana aja kek, muter muter nongkrong dikafe apaan deh yang penting keluar puyeng nih aku seharian jagain dua anak tetangga”

“Memang kenapa”

“Tahu gak Mba tadi kan aku nemenin anaknya tetanggaku. Terus yang bikin bete aku diajak Jogging ama anak Tetanggaku dan temen temenya. Dan aku kalah dong sama mereka. Aduh cape banget aku mba…”

“Emang Lu lari seberapa jauh sampe kecapean gitu”

“Ya keliling komplek aja sihh, tapi tetep aja mba lemees…” Jawabku.

“Hmmmm, keseringan ML sihhh jadi lari segitu aja dah lemees.”

“Hehehehe….”
“Tapi jadi kan temenin keluar”

“Iya iya, lah ini gue lagi milih milih baju ma celana” kata dia dan tiba tiba ia membuka Baju dan celananya begitu saja.

Mba Icha ternyata tidak mengenakan celana dalam hingga memeknya yang berbulu lebbat langsung dapat kulihat tanpa terhalangi lagi. Hanya susunya saja yang ia tutupi dengan bra hitam. Sontak mataku langsung tertuju pada tubuh indah itu. Dan tak terasa penisku mulai bereaksi. Kupandangi terus tubuh Mba Icha. Kini ia mulai mengenakan Jeans Hitam, belum semua celananya ia tarik keatas ia tiba tiba berhenti….

“Kenapa lihatin guee teruusss, Sangeee yaaahhh” Kata Mba Icha lirih dengan nada sedikit nakal.

“Ahhh enggaak, kan aku dah sering lihat mba ini gimana…” Jawabku sebisanya.

“Ahhh masaaa….” Pancing mba Icha sambil memegang memeknya sendiri

“Hmmm, Bastiian sangeee yaahhhhh. Tuuuhhh yang bawaah udah kelihatan membesar…” Pancing Mba Icha dengan nada lirih.

Lalu tiba tiba ia membuka Branya. Dan mulai memainkan payudara dengan tanganya sendiri. Lalu ia melangkah dan berdiri didepanku. Lalu ia mulai mendekatkan payudaranya yang berukuran 34A itu tepat didepan wajahku. Ia meremas payudara kanannya dan tangan kirinya ia letakan tepat di tengah selangkanganya. Lelaki normal mana yang mendapati situasi seperti ini tidak bergeming hatinya. Aku bingung harus bagaimana, tetapi penisku terus meronta ronta dibawah sana. Ahirnya….

Author: 

Related Posts