Cerita Sex Taman Sang Dewi – Part 4

Cerita Sex Taman Sang Dewi – Part 4by adminon.Cerita Sex Taman Sang Dewi – Part 4Taman Sang Dewi – Part 4 Piece 3 (Aku Adalah Mimpi-Mimpi) Dew..jadi. Khafi masih terlihat gugup saat menemui Dewi di teras rumahnya. Khafi menggunakan kaos lengan panjang warna hitam bertuliskan Age Of Empires. Dipadu dengan jeans biru tua yang nampak sobek di lututnya. Yuk. Dewi masih saja tersenyum melihat ekspresi wajah Khafi, berhasil. Keduanya berjalan […]

multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-8 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-1 (1) multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-1Taman Sang Dewi – Part 4

Piece 3 (Aku Adalah Mimpi-Mimpi)

Dew..jadi.

Khafi masih terlihat gugup saat menemui Dewi di teras rumahnya. Khafi menggunakan kaos lengan panjang warna hitam bertuliskan Age Of Empires. Dipadu dengan jeans biru tua yang nampak sobek di lututnya.

Yuk.

Dewi masih saja tersenyum melihat ekspresi wajah Khafi, berhasil.

Keduanya berjalan menuju mobil VW safari warna hijau yang terparkir di pekarangan rumah, mobil dengan kap berbentuk tirus, serta beberapa sudut berbentuk persegi. Hanya ada 1 kaca di sisi depan mobil, sementara sisi lainnya hanya tertutupi terpal hitam serta plastik putih tebal sebagai pengganti kaca, sedangkan sisi kanan dan kiri bagian depan dibiarkan terbuka. Khafi memasuki pintu sebelah kanan, sedangkan Dewi memasuki pintu sebelah kiri.

Antik ya ?

Khafi memperhatikan iterior dalam mobil tersebut. Semua masih serba klasik, pasti memakan tenaga untuk mengendarainya.

Yoi, ini mobil kesayangan mas Bima, yuk ah cabut

Dewi nampak bersemangat, Khafi langsung menyetater mobil, setelah mobil menyala, Khafi menginjak pedal koplik lalu memasukan gigi dari netral ke gigi 1.

Mobil berjalan keluar, gerbang langsung di tutup oleh mbak Lastri. Khafi dan Dewi nampak berguncang-guncang, karna getaran mobil yang terasa kencang. Semilir angin yang masuk dari celah jendela mobil, membuat rambut kedua insan itu meriap-riap dan menjadi sedikit berantakan.

Khafi melirik di dasboard, dilihat ada sebuah kaca mata bulat besar berwarna kuning keemasan, dengan frame dari besi yang tipis.

Wah cocok gak ?

Khafi tersenyum tengil memakai kaca mata itu, dan memandang Dewi yang ada disebelahnya.

Cocok banget, tinggal tambahin tongkat tuh, hahahaha.

Dewi tertawa puas diikuti tawa renyah Khafi.

Mata Khafi tak berhenti menjelajahi apa saja yang ia lewati. Lampu-lampu jalanan yang menghias di tengah jalan, ruko-ruko yang berjejer di pinggir jalan serta pedagang kaki lima yang tak mau kalah dalam mencari rizki.

Dew.

Ya.

Disini, dimana ya tempat jual game komputer ?

Ada di Depok kok.

Minggu mau anterin aku kesana gak ?

Malem minggu aja, minggunya anterin gw ke setu babakan.

Apa itu setu babakan ?

Danau, enak kok tempatnya, masih alami gitu.

Ya udah terserah kamu aja.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menelusuri jalan ibu kota yang sedikit terlihat ramai, tapi di jalur sebelah nampak macet karna masih jam pulang kerja. Khafi sudah tak terlihat canggung bersama dengan Dewi.

Dew, ngomong-ngomong dimana rumah temenmu itu ?

Khafi terlihat tenang memperhatikan kanan-kiri jalan.

Dan ngomong-ngomong lo itu salah jalan Khaf.

Dewi celingak-celinguk memperhatikan jalan-jalan disekitar.

Lha, kenapa gak kasih tau dari tadi ?

Khafi masih terlihat tenang.

Kenapa lo gak nanya dari awal ?

Dewi mulai terlihat emosi.

Harusnya kamu lha yang langsung kasih tau.

Khafi masih menunjukan ekspresi tenangnya.

Harusnya lo jangan jalan dulu kalo belum gw kasih tau.

Dewi semakin tersulut emosinya, matanya semakin membesar melihat Khafi yang tenang dan dengan wajah tanpa dosa.

Kan kamu yang tadi bilang yuk ah cabut.

Khafi menirukan gaya Dewi berbicara, dia nampak tenang walau tau saat ini mereka salah jalan, sementara Dewi nampak kesal.

Lo kenapa gak berenti dulu sih, udah tau salah jalan, masih aja terus maju.

Ngggiiiikkkkkk.

Khafi menginjak dalam-dalam pedal rem, mobil berhenti seketika dan disambut dengan rentetan klakson dari kendaraan-kendaraan yang ada di belakang mereka. Beberapa detik kemudian, berbagai macam umpatan dari pengguna jalan menggema di telinga mereka.

Hadeewwww.

Dewi tertunduk lesu, Khafi nampak cengar cengir bodoh, kepalanya mengangguk-angguk dengan kedua telapak tangan menempel, meminta maaf kepada para pengendara lainnya atas kecerobohannya mengerem mendadak.

*****
Dewi memasuki sebuah halaman rumah mewah, halaman yang sudah dihiasi berbagai macam pita warna warni dan juga balon yang bermacam warnanya. Dia menghampiri seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya. Gadis itu sedang asik berbicara dengan Safira.

Hai Dew, kok baru dateng, salah seorang wanita menyapa kedatangan Dewi.

Iya nih, selamet ya Mal.

Dewi tersenyum lalu kedua wanita itu saling menempelkan pipinya kanan dan kiri, seraya Dewi memberi sebuah kado untuknya.

Eh itu cowok lo ? Mala melirik kearah Khafi yang ada di belakang Dewi, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Safira yang ada disampingnya. Fir, sohib lo udah dapet aja gandengan, nah lo kapan dapetnya ?

Eh bukan..

Dewi dan Khafi serentak menyangkal.

Safira dan Mala serentak tersenyum.

Dia ini tetangga bokap di kampung, numpang di rumah gw karna kerjanya gak jauh dari rumah gw.

Dewi mengonfirmasi, walaupun kedua temennya tetap saja tersenyum meledek.

Hoo bener.

Dan mereka pun larut dalam pesta yang sederhana, hanya di datengi oleh beberapa teman dekat saja. Dewi sibuk ngobrol dengan teman-temannya, membicarakan banyak hal masalah yang biasa wanita bicarakan. Minuman ringan tak pernah lepas dari genggaman wanita-wanita yang asik bertukar suara, disertai beberapa camilan. Beberapa membawa pasangan prianya, dan ikut gabung dalam obrolan yang sebenarnya membosankan untuk para pria.

Sementara Khafi.

Asik banget lo di meja prasmanan sendirian.

Safira tiba-tiba ada di samping Khafi yang sedang asik menikmati hidangan yang nampak di sia-siakan oleh para tamu. Kebanyakan tamu wanita dan para wanita kebanyakan hanya mengambil secuil makanan utama, sedikit camilan, dan hanya di penuhi dengan minuman ringan.

Abis kasian nih meja sendirian, jadi aku temenin deh.

Khafi beralasan dengan mulut penuh makanan.

Hahahaha.bisa banget lo ngelesnya.

Safira tak bisa menahan tawanya, menepuk pundak Khafi dengan keras, seolah Safira sangat mengenal Khafi. Hingga hampir saja Khafi memuntahkan makanannya.

Kamu gak gabung sama temen-temen kamu ?

Khafi melirik sebentar Safira, seperti terbius oleh keindahan mata sayu yang berwarna biru, Khafi buru-buru mengalihkan pandangannya.

Lo sendiri juga gak gabung, malah menyendiri disini.

Kalo aku mah gak ada yang ku kenal, cuma Dewi doank, itu juga dia lagi asik sama temen-temennya.

Gw lagi males gabung, gara-gara lo dateng sih.

Safira nampak menggembungkan kedua pipinya, terlihat sangat manis.

Lah kok aku disalahin ?

Iya, lo kan denger sendiri pas lo baru dateng bareng Dewi, si Mala ngomong apa, masih berlanjut tuh ledekannya kalo gw gabung.

Khafi menyuap sesendok lebih makanannya, seraya mengangguk-angguk tanda paham. Yakin paham ?

Eh tapi bener, lo pacarnya Dewi ?

Safira berbisik seraya mendekatkan wajahnya dan melirik Khafi serta tersenyum nakal.

..

Dengan mulut penuh Khafi menggeleng-geleng dengan mantap.

Kalo pacaran juga gak papa sih, berarti dia udah benar-benar bisa bangkit dari kesedihannya.

Safira menatap kearah Dewi yang terlihat riang berbicara dengan teman-temannya.

Emang dia sedih kenapa ?

Masih dengan mulut penuh makanan.

Emang lo belum tau ?

Khafi hanya menggeleng kepala.

Safira mengambil piring lalu menyendokan makanan, sambil menyuap makanan, dia bercerita tentang apa yang Dewi alami. Tentang tunangan Dewi yang gugur saat menjalani tugas perdamaian dunia di Palestina. Safira bercerita banyak tentang mental Dewi yang hancur sejak kepergian tunangannya.

Dia juga bercerita bagaimana sulitnya menenangkan Dewi ketika dia mulai teringat kepada tragedi yang menimpa tunangannya. Setiap ada berita tentang serangan di Palestina, seketika itu Dewi meraung-raung, mengurung diri di dalam kamar, atau main ke rumah Safira hanya untuk melampiaskan emosinya.

Khafi teringat kata-kata Dewi kemarin. Kita semua senasib. Agama, ideologi, sumber daya, tanah, dendam, cinta, atau yang lain. Gak peduli betapa konyol alasannya, itu cukup untuk memulai perang. Perang gak akan pernah berhenti.

Ah..

Safira memperhatikan tubuh Khafi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bentuk tubuhnya, tingginya, serta bahasa tubuhnya. Terakhir Safira memperhatikan sorot mata Khafi yang tajam. Pupil mata Safira yang biru dan terlihat berkilau kini beradu dengan sorotan menusuk Khafi.

Sejak kapan lo tinggal di rumah Dewi ?

Safira masih memperhatikan sorot mata Khafi dalam-dalam. Sorot mata yang tegas.

Sabtu sore kemarin.

Safira terdiam sejenak, mata berkilaunya masih saling membalas tatapan dengan Khafi.. pantes sejak tadi pagi Dewi terlihat sedikit ceria.

Pokoknya lo harus jadian sama Dewi.HARUS.

Mata Khafi terbelalak, pandangannya semakin tajam menatap mata seindah permata Safir.

Dewi !!!

Khafi dan Safira serentak berucap. Memandang Dewi yang sudah menggenggam segelas anggur merah. Terlihat beberapa botol Wine berjejer rapi di meja tak jauh dari Dewi dan teman-temannya mengobrol.

Dia mulai mabok lagi.

Safira menaruh piring makanannya serta menggelengkan kepalanya, menatap pilu sahabatnya yang belum sepenuhnya bisa melupakan lukanya.

Kok ada minuman keras sih di pesta ulang tahun.

Khafi langsung menaruh piringnya dan berjalan menghampiri Dewi yang sudah terlihat sedikit sempoyongan. Safira mengikuti dari belakang.

Dew kita balik !

Khafi menggenggam erat lengan Dewi. Merampas dengan paksa gelas yang ada di tangan Dewi lalu memuangnya ke lantai hingga pecah.

Iya Dew, kita balik, lo kemarin mabok waktu nginep di rumah gw, jangan terus-terusan lo rusak tubuh lo !

Safira juga menggenggam erat lengan Dewi.

Lo apa-apaan sih berdua, jangan seenaknya sama gw deh. Gw tuh lagi ngerayain kembalinya dia.

Omongan Dewi terdengar sedikit tidak jelas, lalu memeluk Khafi dan bergelayut di leher Khafi.

Safira paham, Khafi tidak paham, dia melirik Safira dengan pandangan penuh tanya. Safira hanya memanggut, mengisyaratkan Khafi untuk menyeret paksa Dewi agar segera pulang.

Mereka berdua memapah Dewi menuju ke mobil, terlihat Khafi dan Safira agak kepayahan menahan tubuh Dewi yang berjalan tak tentu arah. Tercium pula bau alkohol yang menyengat dari mulutnya.

Stress lo Dew, gw kira lo udah berubah sejak.

Umpat Safira seraya melirik kearah Khafi saat mereka berdua merebahkan Dewi di jok belakang mobil. Khafi hanya membenarkan posisi Dewi di dalam jok belakang, kemudian berjalan menuju kemudi.

Khafi pun memacu mobil menuju rumah Dewi, Safira ikut dan duduk di belakang merangkul sahabatnya yang sedang mabuk. Dia membiarkan Dewi mengoceh tak jelas, melihat lampu-lampu jalanan.

Khafi dan Safira nampak cemas melihat kondisi Dewi, mereka berdua nampak berfikir hingga membuat Khafi memacu mobil dengan pelan. Menelusuri jalan kota Depok, dari tempat yang ramai hingga kini mereka berada di tempat yang sepi, beberapa lampu jalan ada yang mati, bahkan beberapa lampu yang hidup tertutupi oleh pohon yang ada di pinggir jalan.

Khaf berenti dulu !

Ada raut kebingungan tergurat di wajah Safira, sedangkan Dewi sudah lebih tenang, matanya sudah terpejam.

Kenapa Fir.

Khafi memberhentikan mobil di pinggir jalan dan menoleh ke arah Safira.

Kayaknya kita nyasar deh.

Khafi memperhatikan sekelilingnya.

Emang kalo ke rumah Dewi lewat mana ya ?

Khafi menyandarkan tubuhnya di jok mobil, lalu menyilangkan tangannya, terlihat dia berfikir memperhatikan jalan di sekitarnya.

Lha emang lo tadi berangkat ke pesta dari mana ?

Dari rumah Dewi lah, tapi aku lupa jalan pulangnya, abis nih jalan gak ada puteran baliknya.

Ada kali, cuma agak jauh dan jarang juga, soalnya macet kalo kebanyakan puteran balik.

Nah karna itu, aku jadi lupa muter balik, akhirnya keterusan, sepertinya begitu deh.

Mendadak rambut Safira menjadi gatal dan menggaruk-garuknya hingga berantakan.

Ini sih arah mau ke Citayam, lurus lagi bisa-bisa kita ke Bogor.

Ya udah aku sekarang harus ke arah mana nih.

Cari puteran balik aja.

Oke.

Khafi kembali menekan pedal gas.

Eh tunggu !

Safira menepuk pundak Khafi, sontak Khafi menginjak pedal rem.

Apa lagi ?

Masa kita bawa pulang Dewi dengan keadaan seperti ini.

Safira memandang kelu sahabatnya yang sudah tertidur dalam mabuknya. Khafi dan Safira serempak menghela nafas panjang melihat kondisi Dewi.

Iya juga ya, bisa marah besar orang tuanya, aku juga bisa kena marah nih.

Khafi nampak kebingungan, dia sapu pandangannya ke arah jalan yang nampak lengang karna memang jarang sekali kendaraan lewat tempat ini.

Gak mungkin kalo bawa ke rumah gw lagi, lagi ada sodara gw nginep.

Safira nampak berfikir, dia merapihkan rambut Dewi yang nampak basah dan berantakan.

Terus apa kita nunggu dia sadar dulu ?

Besok pagi baru sadar, masa kita keliling Depok nunggu pagi.

Besok aku kerja, mana bisa.

Terjadi kenyusian beberapa saat, Khafi dan Safira nampak berfikir tentang nasib Dewi mau dibawa kemana.

Gw tau gimana caranya buat dia langsung sadar.

Safira tersenyum sumringah.

Gimana ?

Khafi ikut tersenyum karna Safira telah menemukan jalan keluarnya.

Kasih dia sperma !!

DOOOONNNGGGG

Safira tersenyum sedikit nakal, Khafi cuma bengong menjurus bodoh, terlihat sebuah aliran liur yang mengalir di tenggorokan Khafi.

..

Kata orang sih begitu.

Teori ngaco.

Apa salahnya nyoba.

Caranya ?

Safira bergantian memandang Khafi dan Dewi. Kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Khafi, setengah berbisik Safira berkata.

Lo onani sekarang, terus kalo mau crot, lo masukin kontol lo ke mulut Dewi.

Heh.

Khafi terkejut, coba mencerna perkataan Safira, sedetik kemudian Khafi menggeleng-geleng.

Gak ah, kalo dia bangun terus kaget terus gigit itu aku gimana ?

Safira menyandarkan tubuhnya, menjentik-jentikan telunjuknya di dagu, dia berfikir sejenak tentang ide gilanya itu.

Hmmm

Lo onani aja, nanti masukin ke mulut gw, biar gw yang transfer ke mulut Dewi.

Khafi makin terkejut, di pandangi bibir tipis Safira yang membuatnya tergoda.

Ah tetep aja ini konyol, gila aja aku onani disini, kondisi mobil juga begini.

Khafi memperhatikan sekelilingnya.

Udah cepetan, kondisi jalanan lagi sepi ini santai aja, apa gw paksa nih plorotin celana lo terus gw kocokin kontol lo.

Ancam Safira dengan wajah sedikit kesal.

Eh boleh tuh kalo gitu.

Khafi tersenyum lebar, terlihat rona birahi di wajahnya karna membayangkan apa yang Safira katakan.

Sialan lo, enakan elo itu mah, udah cepetan onani gih.

Masih diantara percaya dan tidak, Khafi melepaskan kaitan celana jeansnya, lalu menurunkan sletingnya.

Yakin nih kita pake cara konyol kamu ?

Khafi memastikan untuk yang terakhir kalinya, metanap Safira yang masih bersandar memperhatikan selangkangan Khafi. Safira hanya memanggut, hatinya sedikit berdebar melihat Khafi mulai membuka celananya.

Khafi berbalik, menghadap ke depan membelakangi Safira yang ada di bangku depan, lalu menurunkan celananya dan juga dalemannya, munculah sebatang penis yang masih layu. Dengan sedikit ragu Khafi mulai membelai penisnya itu. Walaupun Khafi membelakanginya dia masih bisa melihat jemari Khafi yang sedang membelai penisnya. , Safira coba mengalihkan pandangan ke arah luar.

Safira membuka Jaketnya, lalu melemparkannya ke arah Khafi.

Nih tutupin pake jaket gw, takut ada yang liat.

Khafi mengikuti apa yang dikatakan Safira, dia menutupi selangkangannya dengan jaket tipis warna hijau milik Safira. Dia memandang Safira dari kaca kecil yang ada di sudut atas mobil, seraya memijat penisnya, Safira terlihat lebih menggairahkan setelah melepas jaketnya. Lengan yang mulus, serta tonjolan payudaranya terlihat dari balik baju tanpa lengan yang Safira pakai.

Beberapa menit sudah Khafi memainkan penisnya, sesekali Safira melirik selangkangan Khafi dari belakang.

Masih lama ?

Tegang aja belum.

Impoten ya lo ?

Sembarangan, gimana mau tegang kalo main sendiri.

Safira memperhatikan selangkangan Khafi yang tertutup jaket hijaunya. Dilihatnya tidak ada perubahan tonjolan yang mengacung dari balik jaketnya.

Lo duduknya pindah ke belakang !

Perintah Safira, Khafi hanya diam dan menuruti perintah Safira, melangkah kebelakang dengan tangan memegang jaket menutupi selangkangannya. Dia duduk di samping Safira.

Dengan sigap Safira langsung meraih jaket yang menutupi selangkangan Khafi, terlihat jelas lah batang penis Khafi yang hanya sedikit mengalami ereksi. Langsung dilahap batang kejantanan yang masih lunak itu.

Aaaaaakkkkhhh.

Khafi melenguh, mendapat serangan mendadak Safira, tangannya reflek meremas rambut Safira.

Seperti tarian yang indah, tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat. Safira melakukannya dengan sangat eksotis, meskipun ia hanya menggerakkan mulutnya naik turun dengan sangat lembut, serta memainkan jemarinya dengan gemulai. Tapi kulumannya benar-benar bisa mengeraskan penis Khafi hingga urat-uratnya bermunculan.

Entah apa yang dipikirkan Safira saat ini, tanpa kecanggungan ataupun rasa ragu, Safira tanpa henti memberikan hisapan nikmat kepada batang penis Khafi.

Khafi hanya memejam-mejam, ia sama sekali tak peduli dengan kondisi sekelilingnya yang bisa saja sewaktu-waktu ada orang lewat dan mengetahui aktifitas mereka berdua. Dia juga tak peduli dengan Dewi yang terpejam disamping mereka.

Ooouugghhh.

Jemari Khafi semakin lincah, kini menjelajahi punggung Safira, menelusup kebalik kaos Safira. Jantung Safira seketika berdegup lebih kencang, merasakan penis Khafi yang ada dalam genggaman bibir manisnya.

Wow besar

Safira tersenyum dalam birahi ditengah gerakan bibir yang naik turun, melumasi batang kejantanan milik Khafi. Jemarinya mulai liar, bergerak-gerak menuju paha Khafi lalu meremas seperti ingin menancapkan kuku-kuku lancipnya menembus kulit paha Khafi.

Hmmmmmm.

Pllooop.

Safira melepas kulumannya dengan sangat elegan, dia memejam menarik kepalanya hingga menengadah keatas, membuat rambutnya meriap dari depan ke belakang, mulutnya masih terbuka seukuran diameter penis Khafi, hingga membuat Khafi menganggat pinggulnya sedikit.

Sluruuupppp.

Lidahnya menjulur lalu menyapu batang penis Khafi dengan buas. Khafi sedikit mengejang, pahanya terlihat bergetar untuk sementara.

Slurupppp.

Diulangi lagi sapuan lidahnya pada penis Khafi, kali ini diperpanjang menuju pusar Khafi seraya jemari lentiknya mengangkat kaos Khafi dengan perlahan. Dari pusar menuju ke dada bidang Khafi, kaos Khafi semakin terangkat.

Khafi protes dalam gerak kedua telapak tangannya yang menjepit kepala Safira saat lidah Safira hendak menuju penis Khafi. Dipandangnya dengan sangat menusuk mata seindah permata Safir. Diperhatikannya bibir yang basah oleh liur yang digunakan untuk melumasi penisnya.

Sleepppp.

Disergapnya bibir Safira dengan sangat brutal, disedot bibir manis wanita berwajah cantik itu. Dijulurkan lidahnya melumat-lumat rongga mulut Safira, jemarinya merayap menuju kepala Safira, dibelainya rambut lurus yang sedikit melebihi pundak.

Jemari Safira kembali membelai penis mengacung tegak yang memanggut-manggut seolah memanggilnya. Tangan Khafi mulai merambat turun, semakin kebawah hingga tepat di pusar Safira. Diangkatnya perlahan baju Safira dari bawah.

Ssshhh Khaf lo mau ngapain.

Jemari Safira naik menggenggam tangan Khafi yang mulai merayap menyingkap kaosnya. Bukan……bukan untuk menahannya, tapi untuk menuntunnya berpetualang diantara perut ramping nan halus Safira.

Hhhmmmm kita udah terlalu jauh Fir.

Khafi mengerang, bibirnya kini mengecupi leher jenjang Safira. Tercium aroma sewangi bunga mawar tubuh Safira, yang menghampar diantara kulit putihnya. Mengetuk hasrat Khafi untuk menjamah lebih dalam lagi, menjilati setiap mili guratan indah leher Safira.

Kita gak boleh lebih dari ini Khaf.

Safira menuntun tangan Khafi menelusup ke dalam branya, hingga tergenggam sebuah gundukan kenyal nan halus dengan tonjolan puting yang terasa imut. Safira melepaskan genggaman tangannya, lalu mengangkat branya hingga payudaranya seakan melompat keluar, tapi ada tangan Khafi di payudara kirinya yang menahannya.

Kini jemari Safira kembali bergerilya di redupnya pencahayaan mobil, menggenggam batang penis berurat, membelai perlahan, menggelitik setiap rangkaian urat yang mengelilingi penis Khafi.

Kedua paha Safira yang masih tertutup rok, kini merapat dan saling menggesek-gesek. Birahinya telah sampai ke pangkal paha dan bermuara ke liang vaginanya.

Hhhmmm.

Safira mulai melenguh ketika lidah Khafi sudah semakin lihai menjilati lehernya, lalu menggelitik sela telinga mungilnya.

Tangan kiri Khafi yang tadi membelai-belai rambut Safira, kini bergerak turun, membelai punggung Safira yang tereskpos karna baju Safira yang sudah terangkat. Kemudian melingkar berusaha menelusup rok Safira namun tak sampai.

Tangan lo mau kemana Khaf ?

Pinggul Safira bergerak-gerak mencoba mendekatkan jarak selangkangannya dengan tangan Khafi yang menggeliat-geliat di perutnya, namun tetap tak bisa di jangkau tangan Khafi.

Umm.

Khafi menghentikan kegiatannya, menarik kedua tangannya kembali ke posisi samping badannya. Lalu menyergap tubuh Safira dengan lembut, diangkat rok Safira, lalu diturunkan celana dalamnya dengan arogan.

Lo mau ngapain Khaf ?

Safira menatap Khafi dalam-dalam, dia angkat pinggulnya. Kemudian ke dua kakinya agar celana dalamnya dapat dengan mudah lolos dari tubuhnya.

Kita harus menyudahi semua ini Fir.

Khafi mengangkat kaki kanan Safira kemudian ditopangkannya di kedua pahanya. Safira semakin terbelalak tajam, menatap pandangan tajam Khafi.

Iya Khaf, kita udah kelewatan banget nih.

Safira menaikan tubuhnya, lalu menduduki ke dua paha Khafi, digenggam batang penis Khafi, lalu pinggulnya bergerak-gerak, penis Khafi di tuntun masuk ke dalam vaginanya.

Sleeeppp…..aaaakkkkhhhhh.

Penis Khafi masuk secara sporadis, membelah lipatan dinding vagina Safira. Mata Safira semakin terbelalak, kepalanya menengadah, jemarinya mencengkram kuat rambut Khafi.

Gila……penuh banget.

Safira melenguh, mulutnya terbuka lebar, sejenak mereka terdiam membiarkan kedua kelamin mereka beradaptasi. Mata Khafi terpejam merasakan kedutan-kedutan lembut nan hangat pada batang penisnya, seperti disedot-sedot dari dalam.

Gila sesak bangettt.

Khafi melenguh, nafasnya mulai tersengal, perlahan dia mulai menggerakkan pinggulnya. Mengocok-ngocok liang vagina Safira yang sudah mulai terbiasa dengan penisnya.

Khaf ini gak bener nih, tujuan kita bikin Dewi cepet sadar.

Safira ikut bergoyang, pinggulnya mulai ia maju mundurkan, dia mulai melenguh-lenguh dengan sensualnya, jemarinya semakin kencang meremasi rambut Khafi. Satu tangan kirinya mulai menelusup ke bali kaos Khafi dan mencakari pelan-pelan punggung Khafi yang terasa kekar.

Kita harus sudahi ini semua.

Khafi membercepat gerakan pinggulnya, dia dorong sedikit tubuh Safira, lalu kepalanya dia benamkan diantara dua bukit indah milik Safira yang menggantung di dadanya. Dia kecupi payudara putih nan wangi, Khafi berusaha merubah warna putih menjadi bercak-bercak merah.

Dia tarik sebagian payudara Safira, lalu dihisap-hisapnya hingga meninggalkan rona merah. Dia lakukan itu dengan berkeliling diantara puting kemerahan Safira. Lalu dia lumat puting mungil yang telah mengeras itu

Safira semakin gatal dirasakan di pangkal selangkangannya, goyangannya sudah tak maju mundur lagi, tapi sudah tak menentu arahnya, semakin acak bergerak kesegala arah. Tangannya semakin kasar mencabik-cabik punggung Khafi serta berusaha mencabuti rambut ikal Khafi.

Cium gw Khaf !

Khafi melepaskan puting menggoda Safira, lalu merambat naik menyergap bibir mungil Safira. Mereka saling lumat, lidah mereka saling beradu, bertukar liur lalu mencampurnya hingga decik-decik suara liur terdengar begitu menggairahkan.

Mobil bergoyang, tubuh lunglai Dewi yang terpejam ikut bergoyang. Getaran-getaran birahi yang dihasilkan Safira dan Khafi lah yang membuat kedua objek itu ikut bergoyang. Liur mereka mulai mengaliri dagu mereka, lumatan mereka semakin dalam, gerakan kedua pinggul mereka semakin kencang mengadu kedua kelamin yang semakin buas mengolah birahi yang semakin lama semakin tinggi.

Keringat mulai merayap diantara tubuh mereka, membuat basah rambut kedua insan yang asik dalam lautan birahi. Membasahi wajah mereka yang masih asik beradu pagutan pada mulut mereka. Membasahi tubuh mereka yang saling rangkul, serta membasahi selangkangan mereka yang saling bertumbukan.

Ini gak baik untuk pertumbuhan kita.

Khafi melepas pagutan bibirnya, kedua tangan Khafi menggenggam kedua bongkah pinggul Safira, membantu agar semakin liar goyangan pinggul Safira.

Gak ada hubungannya.

Safira menarik kepala Khafi hingga kedua bibir mereka kembali menyatu. Dengan sangat bernafsu Safira melumat habis bibir Khafi, menjambaki rambut ikal Khafi yang semakin berantakan.

Sementara Khafi meremas-remas bokong Safira seraya memaju mundurkannya. Khafi menghentak-hentakkan pinggulnya naik turun, hingga Safira terlihat mengejang-ngejang.

Aku mau keluar.

Lenguh Khafi.

Gw juga.

Desah Safira.

Safira mencabut penis Khafi dari cengkraman vaginanya, lalu mulutnya dengan sigap menerkam penis Khafi. Dilumatnya turun naik penis berurat yang telah sangat basah oleh cairan mereka berdua. Khafi tak tinggal diam, jari telunjuk dan jari tengahnya menelusup masuk ke liang vagina Safira yang sudah terbasahi cairan birahi mereka berdua.

Ssshhhhhh.

Safira mempercepat kulumannya, terasa olehnya getaran pada penis Khafi, dapat dirasakan oleh kedua bibirnya urat penis Khafi yang semakin menonjol.

Oouuggghh.

Khafi mempercepat kocokan kedua jarinya pada liang vagina Safira. Terasa oleh jarinya kedutan-kedutan pada dinding vagina Safira yang semakin mencengkram kuat kedua jarinya.

Aaaaaakkkkkkhhhhhh.

Teriak mereka berbarengan, diiringi cairan orgasme yang menyembur berbarengan dari kelamin mereka berdua. Mereka mengejang hebat, pinggul mereka bergetar-getar saat cairan demi cairan menyembur terus menerus.

Pllloooppp.

Safira melepaskan penis Khafi, mulutnya tertutup rapat menyimpan sperma Khafi yang memenuhi mulutnya.

Kalian ngapain.

Mata Dewi setengah terbuka, tubuhnya masih menyandar lemas di jok mobil.

Sleeepppp.

Safira langsung melumat mulut Dewi, mentransfer sperma yang ada di mulutnya.

Hhhmmm.

Dengan sangat terpaksa Dewi menerima sperma yang ada di mulut Safira. Lidah Safira menerobos rongga mulut Dewi, memaksa seluruh sperma yang ada di mulutnya masuk ke dalam mulut Dewi. Dan juga memaksa sperma yang sudah berada di mulut Dewi, masuk ke dalam tenggorokan Dewi dan mengalir menuju lambungnya.

Puuuaaahhhh.

Safira melepas pagutannya setelah dirasa seluruh sperma telah tertelan oleh Dewi.

Gleekkk.

Dewi menelan sisa-sisa sperma bersama liurnya yang ada di dalam mulutnya. Dewi terdiam dengan tubuh yang masih lemas, 1 menit….2 menit….3 menitjrengjeng.

Gila banyak banget, sperma siapa tuh Fir ?

Raut wajah Dewi berubah lebih segar, matanya terlihat lebih jernih. Tubuhnya terlihat tidak lemas, pengaruh alkohol sedikit demi sedikit mulai menghilang.

Tuh….

Safira melirik ke arah Khafi seraya tersenyum puas.

Wah ampuh juga ya teorimu Fir.

Khafi masih tak percaya dengan keadaan Dewi yang sudah lebih baik dari yang tadi. Benar-benar cara yang sangat konyol namun sempurna.

Gila masih banyak aja tuh sperma lo Khaf, padahalkan tadi sebelum berangkat udah di keluarkan.

Dewi nampak kagum, dia memandang penis Khafi yang masih terbuka namun sudah lemas.

Wah, ternyata lo duluan udah main sama dia Dew, gila lo.

Safira nampak terkejut.

Kagak, dia cuma onani terus keliatan sama gw.

Dewi menyanggah, dia tersenyum jenaka ke arah Khafi.

Aa…

Khafi tak mampu berbicara lagi, dia membetulkan posisi celananya agar menutupi penisnya kembali. Begitu pula Safira, memakai kembali celana dalamnya dan juga merapikan pakaiannya yang berantakan.

Ya udah kita cari minum apa makan biar bau alkohol sama sperma di mulut lo ilang Dew.

Khafi kembali ke bangku depan dan menyalakan mobil serta menjalankannya, mencari sesuatu untuk menghilangkan aroma alkohol dan sperma di mulut Dewi.

Bersambung

Piece 4 (Dewa, Bidadari, dan Malaikat) minggu depan

Author: 

Related Posts